Make your own free website on Tripod.com

 

   

:: | SALAM | MUQADDIMAH | SHOLAWAT | AJARAN | MUJAHADAH | KONSULTASI | ALHIKAM | ARTIKEL | :: 

:: [ LILLAH ] [ BILLAH ] [ LIRROSUL-BIRROSUL ] [ YUKTII KULLA..] ::

 

"LILLAH"

   Daftar Isi :

 :: Pengertian

 :: Dasar Lillah

 :: Keuntungan...

 :: Kerugian...

          Keikhlasan karena ALLOH suatu Ajaran Islam yang sangat prinsip dan harus dilakukan oleh setiap Muslim. Namun di  saat ini ternyata keikhlasan LILLAH seakan-akan sudah hampir lenyap dari hati manusianya. Hal ini terlihat dari sikap, prilaku atau tutur kata seseorang yang seakan-akan sudah tidak terjiwai dengan keikhlasan LILLAH. Padahal kalau sudah tidak LILLAH otomatis "karena lain Allah" (syirik). Bahkan yang lebih menakjubkan lagi adalah tokoh-tokoh agama yang berpendapat bahwa Ikhlas LILLAH itu hanya diperuntukkan orang-orang khos (Wali Allah) saja. Na'udzu Billaah Min Dzaalik. Lebih jelasnya ikuti uraian di bawah ini.   

:: PENGERTIAN LILLAH

    Segala amal perbuatan apa saja, baik yang berhubungan langsung kepada ALLOH dan Rosul-NYA, Shollalloohu 'alaihi wasallam maupun yang berhubungan dengan masyarakat, dengan sesama makhluq pada umumnya, baik yang wajib, yang sunnah maupun yang wenang, asal bukan perbuatan yang merugikan / bukan perbuatan yang tidak diridloi ALLOH, melaksanakannya supaya didasari niat dan tujuan hanya mengabdikan diri kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa dengan IKHLAS tanpa pamrih ! (LILLAHI TA’ALA).

     Penerapan “LILLAH” umumnya ulama’ menyebutnya “IKHLASH”. Jika disatukan menjadi “Ikhlas Lillah”. Umumnya Ulama mengambil kalimat yang depan yakni IKHLAS dan istilah Wahidiyah mengambil yang belakang, yakni “LILLAH” dengan maksud agar lebih mengarah kepada tujuan yang pokok. Karena kalimat ikhlas sudah tercampur dengan pengertian “rela” atau “senang”. Seperti ucapan “saya ikhlas memberikan sesuatu kepada kekasihku”. Ucapan ini belum pasti didasari tujuan semata-mata karena ALLOH (Lillah). Kemungkinan besar karena kekasihnya dia rela memberikan sesuatu. Berarti pemberiannya itu karena kekasih (Lil-kekasih) belum karena ALLOH (Lillah). Akan tetapi jika ucapannya “saya memberi seseuatu kepada kekasihku dengan LILLAH, berarti pemberiannya itu didasari ikhlas karena ALLOH (LILLAH). Selain itu dengan ucapan LILLAH sekaligus berdzikir kepada ALLOH.

     Di kalangan masyarakat sering terjadi pengartian ikhlas yang salah kaprah. Misalnya ; ikhlas adalah “ketika seseorang melakukan amal ibadah dan setelah itu dia melupakannya seakan-akan tidak beramal”. Dicontohkan seperti orang mengeluarkan ludah, Setelah itu dia tak pernah berangan-angan / tidak merasa kehilangan ludah. Penerapan seperti ini belum mengarah kepada tujuan ibadah karena ALLOH (Lillah); Masih dimungkinkan pelaksanannya itu karena selain ALLOH. Yang lebih tepat ungkapan tersebut digunakan untuk menjaga kemurnian ikhlas Lillah. Supaya ikhlasnya tidak rusak dengan timbulnya riya (pamer) atau membanggakan diri (‘ujub), maka di antara cara menjaganya seperti perkataan tersebut.

   Ada lagi yang mengatakan : “saya bekerja untuk mencari bekal ibadah”. Ucapan seperti ini jika diterapkan dalam hati masih belum mengarah kepada tujuan Lillah. Benarkah hasil kerjanya nanti untuk ibadah kepada Alloh atau hanya untuk menuruti kesenangan nafsuinya ? Masih belum jelas dan mengkhawatirkan penyalahgunaannya. Sedangkan bekerjanya itu sendiri bisa langsung dijadikan ibadah karena ALLOH. Jadi yang lebih tepat adalah “saya bekerja karena ALLOH (LILLAH)” atau karena melaksanakan perintah ALLOH, atau semata-mata beribadah kepada ALLOH. Seamuanya merupakan penerapan “LILLAH”.

    Syekh Sahal At-Tasturi berkata ; “Penerapan ikhlas adalah hendaknya gerak diamnya seseorang, baik pada saat sendirian maupun ada orang lain semata-mata hanya karena ALLOH Ta’ala (Lillah), tidak dicampuri karena sesuatu baik dorongan nafsu, menuruti kehendak / kesenangan nafsu maupun pamrih duniawi lainnya” (Dikutip dari kitab At-Tibyan An-Nawawi Bab 4)

     Jadi beribadah itu tidak hanya terbatas pada menjalankan syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji yang menjadi rukun Islam itu saja, juga tidak hanya terbatas pada menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti membaca Al Qur’an, membaca dzikir, membaca sholawat, dan sebagainya. Akan tetapi disamping itu semua, segala gerak gerik manusia, segala tingkah laku dan perbuatannya, sepanjang tidak melanggar larangan ALLOH Subhanahu Wata’ala, harus dijadikan sebagai pelaksanaan ibadah kepada ALLOH Subhanahu Wata’ala. Jika hidup manusia ini tidak selalu diarahkan untuk pengabdian diri / beribadah kepada ALLOH, ini berarti manusia telah menyimpang dari haluan hidup yang telah digariskan ALLOH Subhanahu Wata’ala dalam Ayat tersebut di atas. Penyelewengan / penyalahgunaan mandat merupakan suatu kesalahan yang harus segera ditobati.

     Salah satu syarat yang prinsip yang harus diterapkan dalam hati ketika menjalankan ibadah adalah adanya tujuan (niat) di dalam pelaksanaan-nya. Setiap niat yang baik bisa diikut sertakan dalam tujuan beribadah. Akan tetapi sebagai pondasi yang harus dikokohkan yang seandainya pondasi tersebut hancur akan hancur pula semua yang terbangun di atas yaitu niat beribadah karena ALLOH (LILLAH). Jika tidak disertai niat beribadah, atau tujuannya tidak benar, apapun macamnya perbuatan, perbuatan taat sekalipun, amal perbuatan tersebut bisa jadi tidak dicatat sebagai ibadah.

     Suatu contoh pelaksanaan sholat fardlu atau sunnah. Jika pelaksanaannya tidak didasari karena Alloh (LILLAH), misalnya karena ingin memperoleh pujian atau sesuatu dari orang lain, maka sholat tersebut belum bisa dinamakan pengabdian kepada ALLOH yang murni semata-mata karena-NYA (LILLAH). Tapi masih karena selain ALLOH. (Lighoirillah). Amal ibadah yang karena selain ALLOH itu namanya amal “Lin-nafsi” (hanya menuruti nafsu) atau menyembah nafsu. Padahal ALLOH tidak akan menerima suatu amal kebaikan (ibadah) yang pelaksanaannya karena selain-Nya. Ini namanya “syirik khofi” (menyekutukan tujuan dalam pelaksanaan ibadah dengan selain Alloh); Sekalipun diistilahkan “khofi” tapi tetap berbahaya dan terkecam.

    Begitu pula amal-amal ibadah fardlu dan sunnat lainnya; Sekalipun sudah tepat syarat dan rukunnya dalam pelaksanaan lahirnya akan tetapi tidak LILLAH dalam hatinya, namanya penipuan kepada ALLOH Subhanahu Wata’ala , kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Hal ini sangat berbahaya karena akan ditolak oleh ALLOH Subhanahu Wata’ala. Firman ALLOH (Q.S. 2 ; Al-Baqarah : 9) artinya : “Mereka menipu Alloh dan orang-orang yang beriman. Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak merasa”)

     Begitu pula sebaliknya; jika suatu amal ibadah yang sudah bisa disertai niat LILLAH akan tetapi pelaksanaan lahirnya tidak sesuai dengan aturan ALLOH dan Rasul-Nya, tidak tepat syarat, rukun dan adab-adabnya maka amal ibadah tersebut menjadi batal. Jadi dalam pelaksanaan ibadah disamping harus tepat tata cara pelaksanaannya secara lahiriyah, juga harus tepat niat dan tujuannya secara batiniyah, yakni semata-mata karena ALLOH (LILLAH);

   Suatu perbuatan yang bersifat duniawi atau berhukum jawaz / mubah akan berobah menjadi amal ukhrowi atau amal ibadah jika pelaksanaannya didukung / disertai tujuan dan niat semata-mata karena Alloh (LILLAH); Misalnya; pada saat nafsu seseorang menginginkan makan (bernafsu makan), saat itu pula hati mengarahkan keinginan nafsunya dengan merobah tujuan makannya. Yang semula “karena keinginan atau kesenangan” lalu dirobah menjadi “karena melaksanakan perintah ALLOH yang berupa makan” atau “karena Alloh (LILLAH)”, tidak karena kesenangan nafsunya. Dengan demikian makan yang dia lakukan itu bernilai ibadah karena ALLOH. Dia menjadi hamba Alloh bukan hamba nafsu makan. Sekalipun sudah Lillah namun urusan pelaksanaan syari’atnya makan harus tetap diperhatikan. Misalnya ; makanannya harus halal, diawali dengan bacaan Basmalah dan do’a sebelum makan, dan adab-adabnya supaya tetap dijaga.

   Amal perbuatan yang harus didasari LILLAH hanyalah amal perbuatan yang baik, yang diridloi ALLOH . Perbuatan yang dilarang atau tidak dibenarkan oleh syari’at, yang merugikan pihak lain, dan sebaginya sama sekali tidak boleh didasari dengan LILLAH. Misalnya “saya berzina semata-mata karena ALLOH”. Ini namanya pelecehan dan pengihinaan kepada ALLOHh. Dosanya menjadi dobel.

Sabda Rosululloh menegaskan hal niat ini sebagai berikut :

“INNAMAL-A’MAALU BIN-NIYYAAT, WA-INNAMAA LIKULLI-MRI-IN MAA NAWAA, FAMAN KAANAT HIJROTUHUU ILALLOOH WAROSUULIHI FAHIJROTUHUU ILALLOOHI WAROSUULIH. WAMAN KAANAT HIJROTUHU ILAA DUN-YAN YUSHIIBUHAA AW ILA-MRO-ATIN YANKIHUHAA FAHIJROTUHU ILAA MAA HAAJARO ILAIHI”

Artinya lebih kurang : “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu ditentukan (dinilai) menurut niatnya; dan sesungguhnya yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan yang dia niatkan. Maka barang siapa hirahnya (amalnya) semata-mata menuju Alloh (LILLAH) dan mengikuti Rosul-Nya (LIRROSUL) maka hijrahnya itu sampai kepada Alloh wan Rasul-Nya. Dan barang siap hijrahnya hanya untuk memperoleh harta dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya hanya sampai pada yang dia tuju” (Riwayat Bukhori, Muslim dan lainnya dari Umar Ibnul Khottob Rodiyallohu ‘anhumaa.)

   Penerapan LILLAH ini letaknya di dalam hati. Kelihatannya seperti sesuatu yang sepele (tiada arti) akan tetapi sangat menentukan sekali. Jika kurang mendapat perhatian atau kurang tepat penerapannya, bisa menghancurkan bangunan ibadah secara keseluruhan. Begitu pula penerapan LILLAH ini tidak mudah, kecuali bagi orang yang mendapat hidayah dan taufiq dari ALLOH. Oleh karena itu disamping berlatih setiap saat juga harus berusaha memperoleh hidayah dan taufiq tersebut. Cara untuk memperolehnya, dalam Wahidiyah, pengamalnya dibimbing untuk melakukan “mujahadah” dengan pengamalan Sholawat Wahidiyah dan selalu berlatih setiap saat menerapkan Ajaran Wahidiyah ini.

   Sekali lagi harus diingat bahwa yang boleh dan bahkan harus disertai niat ibadah LILLAH adalah terbatas pada perbuatan yang tidak terlarang.

   Adapun perbuatan yang melanggar syari’at atau undang-undang, yang tidak diridloi oleh ALLOH, yang merugikan, baik merugikan diri sendiri dan lebih-lebih merugikan orang lain, sama sekali tidak boleh dilakukan dengan disertai niat ibadah LILLAH. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Betapapun kecil dan remehnya. Harus berusaha sekuat mungkin untuk menjauhi dan meninggalkan ! Dan pada saat menjauhi atau meninggalkan itulah yang harus disertai niat ibadah LILLAH. Jangan sampai dalam kita menjauhi atau meninggalkan munkarot itu didorong oleh kemauan nafsu. Harus LILLAH - beribadah kepada ALLOH, menjalankan perintah ALLOH (Subhanahu wata’ala) ! Titik. Tidak ingin begini dan begitu.

   Ikhlas LILLAH di sini supaya dijadikan sebagai pondasi dari segala amal. Di atas pondasi itu dibangun berbagai bangunan amal perbuatan, termasuk tujuan / niat lain yang tidak bertentangan dengan syari’at. Misalnya; datang ke rumah saudara. Kedatangannya itu supaya didasari niat “LILLAAHI TA’ALA” Begitu pula tujuan / niat shilaturahim, memberi bantuan, dan sebagainya supaya didasari LILLAH. Sehingga kadatangan, shilaturahim, dan pemberian bantuannya masing-masing tercatat ibadah karena ALLOH. Demikian seterusnya di dalam kita menjalankan perbuaatan-perbuatan yang tidak bertentangan dengan syari’at,. Jangan karena terdorong oleh kepentingan nafsu supaya begini dan begitu, agar tidak merusak dan menghancurkan nilai bangunan amal yang kita kerjakan.

    Masalah pamrih atau berkeinginan terhadap sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan, ingin kepada kebaikan-kebaikan; seperti ingin pahala, surga dan sebagainya atau takut dari sesuatu yang menakutkan ; seperti kesusahan, penderitaan, siksa neraka dan lain sebagainya, itu diperbolehkan. Bahkan sewajarnya harus begitu. Sebab manusia tidak lepas dari sifat basyariyah yang mempunyai keinginan dan harapan serta kemauan-kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu, dan nafsu itupun suatu anugrah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga menjadi makhluk yang lebih lengkap dan paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya. Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan. Diarahkan menurut arah yang telah digariskan oleh ALLOH (Subhanahu wata’ala); yaitu “Liya’buduuni” tersebut. Diarahkan untuk ibadah kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala). Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi timbunan hawa nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan yang akibatnya akan menghancur-kan manusia itu sendiri. Bahkan bisa menghancurkan ummat dan masyarakat. Oleh karena itu di dalam berkeinginan atau pamrih seperti di atas harus disertai niat ibadah kepada ALLOH Subhanahu wata’ala dengan ikhlas LILLAH (semata-mata karena ALLOH).

   Jadi lebih jelasnya, ketika kita bersembahyang, berpuasa, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, membaca Qur’an, membaca dzikir, membaca sholawat dan sebagainya supaya disertai niat beribadah yang sungguh-sungguh ikhlas LILLAH. Jangan sampai kita melakukan semua tadi hanya karena ingin surga, ingin pahala, takut neraka, ingin terhormat, ingin terpuji, ingin kaya dan sebagainya. Begitu juga ketika kita bekerja, belajar, berjuang untuk bangsa, agama dan negara, mengurus dan mengatur rumah tangga, kita ke sawah, ke pasar, ke kantor, ke toko, dan ketika kita makan, minum, tidur, istirahat, mandi dan sebagainya dan sebagainya, selama bukan pekerjaan yang melanggar aturan supaya disertai dengan niat ibadah kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala) dengan ikhlas semata-mata karena ALLOH (LILLAH) tanpa pamrih. Begitu juga ketika kita berkeinginan, berkemauan, berangan-angan, berfikir dan sebagainya harus disertai niat ibadah kepada ALLOH. (LILLAH). Jadi benar-benar melaksanakan pernyataan yang kita baca pada setiap sholat yaitu : “INNA SHOLAATI WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI ROBBIL-’ALAMIIN” ( “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk ALLOH Robbil ‘Aalamiin”.

Dan menerapkan di dalam hati kandungan ayat yang sering kita baca di dalam Surat Al Fatihah :

“IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IIN” (Hanya kepada-MU (yaa ALLOH) kami mengabdikan diri"

   Dengan demikian bagi yang telah mampu menerapkan hal-hal tersebut boleh dikatakan hatinya senantiasa ber-tahlil : “LAA ILAAHA ILLALLOH” (TiadaTuhan melainkan ALLOH”).

    Ilmiah dan pengertian mudah dipelajari mudah dihafal. Akan tetapi disamping pengertian, perlu diusahakan penerapan dan pelaksanaan ilmiah yang sudah kita miliki. Tidak cukup hanya dipelajari, dibahas, diperdebatkan keshahihan dasar, didiskusikan, diseminarkan dan lain sebagainya kalau tidak diamalkan dan diterapkan dalam hati.

Sabda Nabi (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) yang artinya : “Sesungguhnya ALLOH Ta’ala tidak memandang bentuk lahiriyahmu (kepandaian, kemasyhuran, kedudukanmu) dan harta bendamu, melainkan Alloh Ta’ala memandang hatimu dan amal perbuatanmu” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah, Rodliyalloohu’anhu).

    Orang yang mempunyai ilmu akan tetapi ilmunya tidak diterapkan / tidak diamalkan, dia sangat terkecam sekali dan akan mengalami bahaya yang sangat berat. Di dalam kitab Nazhom Az Zubad Karangan Asy-Syekh Al-Allamah Ahmad bin Ruslan Asy-Syafi’i dikatakan :

“FA’ALIMUN BI’ILMIHII LAN YA’MALAN # MU’ADZDZABUN MIN QOBLI ‘UBBADIL-WATSAN”

“Orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya kelak disiksa lebih dahulu daripada penyiksaan para penyembah berhala”.

    Jadi jelasnya, amal perbuatan apa saja, berupa sholat sekalipun, jika tidak disertai niat ibadah LILLAH otomatis disalahgunakan oleh nafsu atau LINNAFSI, menuruti keinginan nafsu. Dan nafsu adalah sebagai sarang iblis dan syetan. Kelak di neraka tempatnya. (Uraian tentang nafsu lihat hal Mujahadah dalam kolom lain di Harian Bangsa ini).

   Di dalam Wahidiyah; dengan memperbanyak Mujahadah Wahidiyah disamping terus menerus melatih hati dengan niat LILLAH seperti di atas, Insya Alloh pengamalnya dikaruniai banyak kemajuan dan peningkatan dalam hal beribadah kepada ALLOH dengan niat ikhlas LILLAH tersebut. Bahkan ALLOH telah berjanji akan membukakan jalan kesadaran kepada-NYA bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mau berusaha atau bermujahadah. Firman-NYA yang artinya : “ Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menuju kepada Kami, pasti mereka Kami tunjukkan jalan Kami”. (Q.S 29 AL-Ankabut 69).

    Mari kita mengadakan koreksi kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita senantiasa berikhlash LILLAH dalam segala amal perbuatan yang baik ? Kalau sudah kita harus bersyukur kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala) karena itu semata-mata fadlol dari-Nya. Kalau belum mari bersama-sama kita berusaha dan berlatih dengan sungguh-sungguh serta berdo’a semoga ALLOH (Subhanahu wata’ala) segera berkenan membukakan pintu hidayah-Nya kepada kita bersama. Amiin

:: Kembali ke atas  

:: DASAR-DASAR LILLAH

a.

Firman ALLOH (Subhanahu wata’ala) dalam QS 98 : Al-Bayyinah : 5 :  “Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus (dengan ikhlas Lillah)”.

b.

Firman ALLOH (Subhanahu wata’ala) dalam Q.S. 51 : Adz-Dzariyat 56 :  “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdikan diiri kepada-KU”.

c.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda :  “Sesungguhnya semua amal itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya. Barang siapa hijrahnya (beramalnya) menuju Alloh (LILLAH) dan Rasul-NYA (LIRROSUL) maka hijrahnya diterima oleh ALLOH dan Rasul-NYA, dan barang siapa hijrahnya (beramalnya) untuk memperoleh materi atau mempersunting perempuan maka nilai hijrahnya sesuai dengan yang ditujunya “. (H.R. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan An-Nasa-i dari Sayyidina Umar bin Khotthob )

Yang dimaksud “A’maalu” dalam hadits adalah semua amal perbuatan yang tidak bertentangan dengan syari’at baik berupa ucapan maupun perbuatan anggota badan lainnya. Nilai suatu amal sangat ditentukan oleh niatnya.

Jadi segala perbuatan dan tingkah laku manusia dalam segala keadaan, siatuasi dan kondisi yang bagaimanapun, hidup di dunia ini harus diarahkan untuk pengabdian diri / beribadah kepada ALLOH Ta'ala, sebagai pelaksanaan tugas “LIYA’BUDUUNI”.

d.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda : “Ikhlaskan amalmu hanya kerena ALLOH (Lillah), sebab ALLOH tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.

e.

Rosululloh (Shollalloohui‘alaihi wasallam) bersabda : "Dunia seisinya dila’nat (dikutuk oleh ALLOH) kecuali sesuatu yang digunakan/ dilakukan semata-mata mengharap ridlo-NYA (Lillah)” (H.R. Thabrany)

   :: Kembali ke atas


:: KEUNTUNGAN BAGI YANG MENERAPKAN LILLAH

a.

Firman ALLOH (Q.S.16; An-Nahl- 97) :  “Barang siapa   mengerjakan amal shaleh (LILLAH), baik laki-laki maupun perempuian dalam keadaan beriman (BILLAH) maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Suatu amal perbuatan sesorang dinamakan shaleh menurut pandangan ALLOH jika dilakukannya dengan ikhlas semata-mata karena-NYA (LILLAH).

b. 

Dalam suatu hadits, Beliau (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda :  “Ikhlaskanlah amalmu semata-mata karena Alloh (LILLAH), maka sedikit amal dengan ikhlas sudah memadai (mencukupi) bagimu”. (HR Abu Mansur dan Ad-Dailami)

c.

Rosululloh (Shollalloohui‘alaihi wasallam) bersabda : “Tiada seseorang beramal dengan ikhlas karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber hikmah dari hati sampai ke lisannya”. (HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary, Ra ).

d.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda “:  “Barang siapa meninggal dunia dia senantiasa berikhlas karena Alloh semata (LILLAH) dan tiada menyekutukan-NYA (BILLAH) (pada masa hidupnya) serta menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka dia meninggal dunia dengan memperoleh ridlo Alloh “ (H.R. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Anas bin Malik)

e.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda :  “Barangsiapa cinta karena ALLOH(Lillah), benci karena ALLOH, memberi karena ALLOH dan menolak (tidak memberi) karena ALLOH, maka sungguh telah sempurna imannya”. (HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).

f.

Ditegaskan pula dalam hadits Nabi (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) yang lain :  “Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas (LILLAH). Mereka itulah sebagai lampu-lampu petunjuk yang menghilangkan kegelapan fitnah" (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dari Tsauban)

g. Ikhlas menurut Imam Ghozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena ALLOH. (LILLAH). Begitu pula Syekh Zaini Dakhlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah kesamaan antara lahir dan batin bagi seseorang dalam menjalankan suatu amal; Artinya secara lahir ia menjalankan amal sesuai perintah ALLOH, dan hatinya berniat semata-mata karena ALLOH (LILLAH). Disamping itu ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.

:: Kembali ke atas


:: KERUGIAN DAN KECAMAN BAGI YANG TIDAK LILLAH

    Orang yang tidak menerapkan ikhlas LILLAH termasuk dalam firman Alloh yang artinya :  “Mereka menipu Alloh dan menipu orang-orang yang beriman. Sebenarnya mereka tiada menipu kecuali kepada dirinya sendiri sedangkan mereka tidak merasa” (Q.S. 2. Al-Baqarah 9)

    Dalam Hadits Qudsi disebutkan :  “ALLOH berfirman: “Aku tidak memerlukan persekutuan dan Aku tidak memerlukan suatu amal yang dipersekutukan dengan selain-KU. Barangsiapa beramal dengan menyekutukan selain Aku (tidak murni karena Aku), maka Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh Al-faqih As-Samar-qondy dalam kitab Tanbihul-Ghofilin dari hadits Abi Huroiroh, Ra).

   Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda : “INNALLOOHA LAA YAQBALU MINAL-’AMALI ILLAA MAA KAANA LAHUU KHOOLISHON WABTUGHIYA BIHII WAJHUHU”

 “Sesungguhnya ALLOH tidak menerima suatu amal kecuali amal yang ikhlas (Lillah) dan dilakukan semata-mata mengharap ridlo-NYA”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).

    ALLOH (Subhanahu wata’ala) berfirman (Q.S.15 Al-hIjr : 39-40 ) menghikayahkan ucapan iblis :  “Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siatnya di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka, kecuali hamba-hamba Engkau yang berikhlas di antara mereka”.

     Logikanya orang-orang yang tidak benar-benar beramal dengan ikhlas LILLAH dia dengan mudah akan diombang ambingkan dalam kesesatan oleh Iblis. Sekalipun kelihatannya beramal baik kemungkinan besar di balik kebaikannya itu ada keburukan bahkan mungkin kejahatan yang berlindung. Apabila kejadian seperti ini tidak diperhatikan dan dibiarkan berlarut-larut mewabah ke lubuk hati setiap insan maka akan berakibat fatal. Penipuan (sekalipun dangan cara yang halus), penyalahgunaan hak, kerakusan, kemunkarotan dan sebagainya akan terjadi di semua sektor kehidupan masyarakat. Dengan demikian tiodak mustahil lagi jika keadaan ummat manusia semakin tersesat dengan hawa nafsunya dan tidak memperoleh petunjuk dari ALLOH (Subhanahu wata’ala).

    ALLOH (Subhanahu wata’ala) berfirman dalam(Q.S. 28 - Al-Qoshos 50 : “Tiada seseorang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya serta tidak mendapat petunjuk dari ALLOH. Sesungguhnya ALLOH tidak akan memberi petunjuk kepada kaum (orang-orang) yang zhalim”.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda:  “Sesembahan di atas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah)

    Al-hamdu Lillah, dalam situasi dan kondisi ummat manusia yang semakin tenggelam dalam lautan kegelapan hawa nafsunya, ALLOH berkenan memunculkan seorang hamba-NYA untuk menyingkap tabir-tabir kegelapan itu dengan menyebarluaskan bimbingan praktis menuju kesadaran kepada ALLOH . Hamba ALLOH yang dimaksud adalah Hadlrotus Syekh KH Abdoel Madjid Ma’rof, Muallif Sholawat Wahidiyah dan perumus Ajaran Wahidiyah.

    Sebelum dan selama ini masalah ikhlash LILLAH, lebih-lebih penerapan BILLAH dan bimbingan lainnya masih terbatas di kalangan orang-orang khas (tertentu) saja. Belum banyak diketahui lebih-lebih diterapkan oleh ummat secara umum. Bahkan masih ada pendapat bahwa LILLAH - BILLAH itu hanya bisa dilakukan atau untuk para Waliyulloh saja. Bukan untuk ummat Islam secara umum. Pandangan tersebut sangat tidak beralasan. Karena Al-Qur-an, Al-Hadits dan syari’at Islam ditujukan kepada ummat secara umum. Khithabnya tidak hanya kepada para Waliyulloh saja.

     Sekalipun di sana-sini sering menemui hambatan dan tantangan dalam penyampaian bimbingan tersebut, Alhamdu Lillah, dengan pelan-pelan akhirnya bisa dimengerti dan diterima oleh sebagian dari masyarakat. Haadzaa Min Fadhlillaah. Mudah-mudahan dengan dimuatnya dalam Harian Bangsa ini, ALLOH (Subhanahu wata’ala) segera menyampaikan-nya ke dalam lubuk hati para pembacanya dan ummat masyarakat pada umumnya sehingga ummat masyarakat khususnya bangsa Indonesia ini segera kembali mengabdikan diri kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala). Amiin.

    Mari hati kita sendiri khususnya dan ummat masyarakat pada umumnya selalu kita panggil dengan panggilan ALLOH (Subhanahu wata’ala) yang berbunyi “FAFIRRUU ILALLOOH” (Larilah kembali kepada ALLOH).

     Ikhlas LILLAH adalah suatu pelaksanaan syari’at yang dilakukan oleh hati atau syariatnya hati. Sedangkan syari’at itu sendiri masih memerlukan adanya haqiqat. Yang dimaksud haqiqat di sini adalah bertauhid BILLAH. Karena syari’at (sekalipun sudah disertai LILLAH) tanpa haqiqat (BILLAH) bagaikan jasad tanpa nyawa, dan haqiqat (BILLAH) tanpa syari’at (LILLAH) bagaikan nyawa tanpa jasad. Jadi dianggapnya manusia hidup sempurna jika jasadnya berisi nyawa. Begitu pula amal ibadah dianggap sempurna jika LILLAH-nya diserati BILLAH. Bagaimana pengertian dan cara penerapannya ? Ikuti uraian berikutnya.

:: Kembali ke atas  

 

Disiarkan Oleh :

DEWAN PIMPINAN PUSAT PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH

Sekretariat :

Pesantren At-Tahdzib (PA), Rejoagung, Ngoro,

JOMBANG 61473 JAWA TIMUR

Fax : (0354) 326720 Telp : (0354) 326720 - 326721


Copyright @ wahidiyah.tripod.com 17-7-2006