Make your own free website on Tripod.com

 

   

:: | SALAM | MUQADDIMAH | SHOLAWAT | AJARAN | MUJAHADAH | KONSULTASI | ALHIKAM | ARTIKEL | :: 

:: [ LILLAH ] [ BILLAH ] [ LIRROSUL-BIRROSUL ] [ YUKTII KULLA..] ::

 

"LIRROSUL - BIRRORUL"

   Daftar Isi :

 :: Pengertian

 :: Dasar 

 :: Keuntungan...

 :: Kerugian...

 :: Lillah-Billah

          Keikhlasan karena ALLOH suatu Ajaran Islam yang sangat prinsip dan harus dilakukan oleh setiap Muslim. Namun di  saat ini ternyata keikhlasan LILLAH seakan-akan sudah hampir lenyap dari hati manusianya. Hal ini terlihat dari sikap, prilaku atau tutur kata seseorang yang seakan-akan sudah tidak terjiwai dengan keikhlasan LILLAH. Padahal kalau sudah tidak LILLAH otomatis "karena lain Allah" (syirik). Bahkan yang lebih menakjubkan lagi adalah tokoh-tokoh agama yang berpendapat bahwa Ikhlas LILLAH itu hanya diperuntukkan orang-orang khos (Wali Allah) saja. Na'udzu Billaah Min Dzaalik. Lebih jelasnya ikuti uraian di bawah ini.   

:: PENGERTIAN LIRROSUL & BIRROSUL
LIRROSUL
BIRROSUL

   :: Kembali ke atas


:: KEUNTUNGAN BAGI YANG MENERAPKAN BILLAH

a.

Firman ALLOH (Q.S.16; An-Nahl- 97) :  “Barang siapa   mengerjakan amal shaleh (LILLAH), baik laki-laki maupun perempuian dalam keadaan beriman (BILLAH) maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Suatu amal perbuatan sesorang dinamakan shaleh menurut pandangan ALLOH jika dilakukannya dengan ikhlas semata-mata karena-NYA (LILLAH).

b. 

Dalam suatu hadits, Beliau (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda :  “Ikhlaskanlah amalmu semata-mata karena Alloh (LILLAH), maka sedikit amal dengan ikhlas sudah memadai (mencukupi) bagimu”. (HR Abu Mansur dan Ad-Dailami)

c.

Rosululloh (Shollalloohui‘alaihi wasallam) bersabda : “Tiada seseorang beramal dengan ikhlas karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber hikmah dari hati sampai ke lisannya”. (HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary, Ra ).

d.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda “:  “Barang siapa meninggal dunia dia senantiasa berikhlas karena Alloh semata (LILLAH) dan tiada menyekutukan-NYA (BILLAH) (pada masa hidupnya) serta menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka dia meninggal dunia dengan memperoleh ridlo Alloh “ (H.R. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Anas bin Malik)

e.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda :  “Barangsiapa cinta karena ALLOH(Lillah), benci karena ALLOH, memberi karena ALLOH dan menolak (tidak memberi) karena ALLOH, maka sungguh telah sempurna imannya”. (HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).

f.

Ditegaskan pula dalam hadits Nabi (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) yang lain :  “Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas (LILLAH). Mereka itulah sebagai lampu-lampu petunjuk yang menghilangkan kegelapan fitnah" (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dari Tsauban)

g. Ikhlas menurut Imam Ghozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena ALLOH. (LILLAH). Begitu pula Syekh Zaini Dakhlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah kesamaan antara lahir dan batin bagi seseorang dalam menjalankan suatu amal; Artinya secara lahir ia menjalankan amal sesuai perintah ALLOH, dan hatinya berniat semata-mata karena ALLOH (LILLAH). Disamping itu ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.

:: Kembali ke atas


:: KERUGIAN DAN KECAMAN BAGI YANG TIDAK BILLAH

    Orang yang tidak menerapkan ikhlas LILLAH termasuk dalam firman Alloh yang artinya :  “Mereka menipu Alloh dan menipu orang-orang yang beriman. Sebenarnya mereka tiada menipu kecuali kepada dirinya sendiri sedangkan mereka tidak merasa” (Q.S. 2. Al-Baqarah 9)

    Dalam Hadits Qudsi disebutkan :  “ALLOH berfirman: “Aku tidak memerlukan persekutuan dan Aku tidak memerlukan suatu amal yang dipersekutukan dengan selain-KU. Barangsiapa beramal dengan menyekutukan selain Aku (tidak murni karena Aku), maka Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh Al-faqih As-Samar-qondy dalam kitab Tanbihul-Ghofilin dari hadits Abi Huroiroh, Ra).

   Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda : “INNALLOOHA LAA YAQBALU MINAL-’AMALI ILLAA MAA KAANA LAHUU KHOOLISHON WABTUGHIYA BIHII WAJHUHU”

 “Sesungguhnya ALLOH tidak menerima suatu amal kecuali amal yang ikhlas (Lillah) dan dilakukan semata-mata mengharap ridlo-NYA”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).

    ALLOH (Subhanahu wata’ala) berfirman (Q.S.15 Al-hIjr : 39-40 ) menghikayahkan ucapan iblis :  “Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siatnya di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka, kecuali hamba-hamba Engkau yang berikhlas di antara mereka”.

     Logikanya orang-orang yang tidak benar-benar beramal dengan ikhlas LILLAH dia dengan mudah akan diombang ambingkan dalam kesesatan oleh Iblis. Sekalipun kelihatannya beramal baik kemungkinan besar di balik kebaikannya itu ada keburukan bahkan mungkin kejahatan yang berlindung. Apabila kejadian seperti ini tidak diperhatikan dan dibiarkan berlarut-larut mewabah ke lubuk hati setiap insan maka akan berakibat fatal. Penipuan (sekalipun dangan cara yang halus), penyalahgunaan hak, kerakusan, kemunkarotan dan sebagainya akan terjadi di semua sektor kehidupan masyarakat. Dengan demikian tiodak mustahil lagi jika keadaan ummat manusia semakin tersesat dengan hawa nafsunya dan tidak memperoleh petunjuk dari ALLOH (Subhanahu wata’ala).

    ALLOH (Subhanahu wata’ala) berfirman dalam(Q.S. 28 - Al-Qoshos 50 : “Tiada seseorang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya serta tidak mendapat petunjuk dari ALLOH. Sesungguhnya ALLOH tidak akan memberi petunjuk kepada kaum (orang-orang) yang zhalim”.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) bersabda:  “Sesembahan di atas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah)

    Al-hamdu Lillah, dalam situasi dan kondisi ummat manusia yang semakin tenggelam dalam lautan kegelapan hawa nafsunya, ALLOH berkenan memunculkan seorang hamba-NYA untuk menyingkap tabir-tabir kegelapan itu dengan menyebarluaskan bimbingan praktis menuju kesadaran kepada ALLOH . Hamba ALLOH yang dimaksud adalah Hadlrotus Syekh KH Abdoel Madjid Ma’rof, Muallif Sholawat Wahidiyah dan perumus Ajaran Wahidiyah.

    Sebelum dan selama ini masalah ikhlash LILLAH, lebih-lebih penerapan BILLAH dan bimbingan lainnya masih terbatas di kalangan orang-orang khas (tertentu) saja. Belum banyak diketahui lebih-lebih diterapkan oleh ummat secara umum. Bahkan masih ada pendapat bahwa LILLAH - BILLAH itu hanya bisa dilakukan atau untuk para Waliyulloh saja. Bukan untuk ummat Islam secara umum. Pandangan tersebut sangat tidak beralasan. Karena Al-Qur-an, Al-Hadits dan syari’at Islam ditujukan kepada ummat secara umum. Khithabnya tidak hanya kepada para Waliyulloh saja.

     Sekalipun di sana-sini sering menemui hambatan dan tantangan dalam penyampaian bimbingan tersebut, Alhamdu Lillah, dengan pelan-pelan akhirnya bisa dimengerti dan diterima oleh sebagian dari masyarakat. Haadzaa Min Fadhlillaah. Mudah-mudahan dengan dimuatnya dalam Harian Bangsa ini, ALLOH (Subhanahu wata’ala) segera menyampaikan-nya ke dalam lubuk hati para pembacanya dan ummat masyarakat pada umumnya sehingga ummat masyarakat khususnya bangsa Indonesia ini segera kembali mengabdikan diri kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala). Amiin.

    Mari hati kita sendiri khususnya dan ummat masyarakat pada umumnya selalu kita panggil dengan panggilan ALLOH (Subhanahu wata’ala) yang berbunyi “FAFIRRUU ILALLOOH” (Larilah kembali kepada ALLOH).

     Ikhlas LILLAH adalah suatu pelaksanaan syari’at yang dilakukan oleh hati atau syariatnya hati. Sedangkan syari’at itu sendiri masih memerlukan adanya haqiqat. Yang dimaksud haqiqat di sini adalah bertauhid BILLAH. Karena syari’at (sekalipun sudah disertai LILLAH) tanpa haqiqat (BILLAH) bagaikan jasad tanpa nyawa, dan haqiqat (BILLAH) tanpa syari’at (LILLAH) bagaikan nyawa tanpa jasad. Jadi dianggapnya manusia hidup sempurna jika jasadnya berisi nyawa. Begitu pula amal ibadah dianggap sempurna jika LILLAH-nya diserati BILLAH. Bagaimana pengertian dan cara penerapannya ? Ikuti uraian berikutnya.

:: Kembali ke atas  

:: [ LILLAH ] [ BILLAH ] [ LIRROSUL-BIRROSUL ] [ YUKTII KULLA..] ::

 

Disiarkan Oleh :

DEWAN PIMPINAN PUSAT PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH

Sekretariat :

Pesantren At-Tahdzib (PA), Rejoagung, Ngoro,

JOMBANG 61473 JAWA TIMUR

Fax : (0354) 326720 Telp : (0354) 326720 - 326721


Copyright @ wahidiyah.tripod.com 17-7-2006