|
Ajakan tersebut tidak hanya dengan bentuk ajakan yang bersifat
informatif seperti hanya penyampaian amalan, ajaran atau bimbingan
saja, akan tetapi juga dengan bentuk pembimbingan praktis. Misalnya
tekanan-tekanan tentang penerepan ikhlash LILLAH, iman / tauhid
BILLAH, ittiba’ kepada Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam
(LIRROSUL), dan kepercayaan serta rasa penerimaan jasa dari Beliau
Shollalloohu ‘alaihi wasallam (BIRROSUL) sangat diperhatikan.
Tekanan terhadap penerapan tauhid BILLAH di sini tidak berarti
memberi kelonggaran dalam pelaksanaan syari’at atau amaliah
lahiriah. Karena penerapan LILLAH, LIRROSUL dan seterusnya adalah
pelaksanaan syari’at. Sangat tidak dibenarkan dalam Ajaran
Wahidiyah seseorang yang beranggapan bahwa jika sudah menerapkan
BILLAH (haqiqat) diperbolehkan meninggalkan syari’at.
Ajaran
Wahidiyah bukan merupakan ajaran atau aliran baru yang menyimpang
dari ajaran Islam; melainkan berupa bimbingan praktis yang
dirumuskan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam melaksanakan
tuntunan Rosululloh Shollalloohu 'alaihi wasallam. Meliputi bidang
Iman, bidang Islam dan bidang Ihsan. Mencakup segi syari’ah, segi
haqiqah dan segi akhlaq.
Sebelum
kita membahas satu persatu pengertian dan bagaimana penerapan AJARAN
WAHIDIYAH, marilah kita renungkan dan kita fikirkan lebih dahulu
tentang fungsi manusia dihidupkan oleh ALLOH Subhanahu Wata’ala di
dunia ini.
Kita
perhatikan firman ALLOH Subhanahu Wata’ala : Artinya kurang lebih
: “Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada Malaikat : “Sesungguhnya AKU hendak menjadikan
kholifah di muka bumi” (2- Al Baqoroh : 30)
Yang
dimaksud “Kholifah” adalah Nabi Adam ‘Alaihissalam yang
menurunkan seluruh ummat manusia. Jadi setiap manusia, sebagai
keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalam dengan sendirinya sebagai ahli
warisnya dan sekaligus menjadi Kholifah ALLOH di muka bumi. Secara
Adami berarti setiap manusia mempunyai tugas kewajiban dan tanggung
jawab menjalankan kekholifahan. Sebagai Kholifah ALLOH di bumi ummat
manusia diberi tugas mengatur kehidupan dunia ini agar menjadi
kehidupan yang baik dan benar yang diridloi ALLOH Subhanahu
Wata’ala
Di dalam menjalankan fungsinya sebagai
Kholifah ALLOH di muka bumi, manusia tidak bebas begitu saja tanpa
arah, melainkan harus mengikuti haluan garis besar dan tujuan pokok
yang harus dituju. Antara lain seperti yang telah ditetapkan di
dalam Al-Qur’an Surat no. 51 Adz- Dzaariaat Ayat 56 : Artinya
kurang lebih : “Dan tiada AKU menciptakan jin dan manusia
melain-kan agar supaya mereka beribadah mengabdikan diri
kepada-KU” (51-Adz Dzaariyat : 56)
Jadi
segala perbuatan dan tingkah laku manusia dalam segala keadaan,
situasi dan kondisi yang bagaimanapun, hidup di dunia ini harus
diarahkan untuk pengabdian diri (beribadah) kepada ALLOH Subhanahu
Wata’ala semata-mata karena ALLOH (LILLAH) sebagai pelaksanaan
tugas “LIYA’BUDUUNI”.
Shahabat Ibnu Abbas Radliyallohu ‘anhuma seorang
mufassir Al Qur’an yang terkenal sejak zaman Rosululloh
Shollalloohu 'alaihi wasallam, menafsirkan kalimat
“Liya’buduuni” dalam ayat tersebut dengan
“Liya’rifuuni”. Artinya agar supaya jin dan manusia
ma’rifat, mengenal atau sadar kepada-KU (ALLOH). Menurut Syekh
Al-Kalabi disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, “Liya’buduni”
ditafsiri “Liyuwahhiduuni”. Artinya agar men-tauhid-kan
(memahaesakan)_AKU. Dua penafsiran tersebut ada keterkaitan satu
dengan yang lain. Untuk men-tauhid-kan Alloh Subhanahu Wata’ala
harus mengenal-NYA lebih dulu. Mana mungkin seseorang men-tauhid-kan
Alloh Subhanahu Wata’ala sebelum mengenal-NYA. Jadi segala hidup
dan kehidupan manusia (dan jin) menurut tafsir ini harus sepenuhnya
diarahkan atau sebagai sarana untuk ma’rifat atau mengenal ALLOH
Subhanahu Wata’ala Sang Maha Pencipta sampai bisa menyadari,
meyakini dan mengi’tikadkan dalam hati bahwa segala sesuatu yang
tercipta adalah ALLOH Subhanahu Wata’ala Sang Maha Pencipta-lah
yang menciptakannya, sehingga dalam hati mengakui dan merasa bahwa
pada hikikatnya tiada daya dan kekuatan melainkan dari ALLOH
Subhanahu Wata’ala. Dalam istilah lain senantiasa men-tauhidkan
(memahaesakan) kepada ALLOH atau menerapkan BILLAH;
Begitu
pula ummat manusia tidak mungkin bisa melaksanakan pengabdian diri
kepada ALLOH (LILLAH) dan man-tauhid-kan BILLAH sesuai dengan
ridlo-NYA tanpa adanya pembimbing. Maka untuk membimbingnya ALLOH
Subhanahu Wata’ala memilih di antara hamba-hamba-NYA dijadikan
Nabi Pemimpin ummat, dan diantara Nabi-Nabi ada yang ditetapkan
sebagai Rosul Utusan-NYA dengan dibekali Kitab Suci sebagai tuntunan
hidup bagi ummat manusia. Nabi dan Utusan ALLOH Subhanahu Wata’ala
yang terakhir adalah Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rosululloh
Shollalloohu 'alaihi wasallam dengan Kitab Suci Al-Qur’an sebagai
pedoman dan tuntunan hidup manusia sampai akhir zaman / Yaumil
qiyaamah.
Dengan
diutusnya Beliau Shollalloohu 'alaihi wasallam ummat manusia
diwajibkan menyaksikan bahwa Beliau Shollalloohu 'alaihi wasallam
sebagai Utusan Alloh dan mentaati atas perintah-perintahnya. Dalam
pelaksanaan taat kepada Beliau disamping pelaksanaan amaliah
lahiriyah tidak kalah pentingnya penataan niat / tujuan dalam batin
/ hati. Yakni dalam pelaksanaan taat secara lahiriyah disamping
didasari ibadah semata-mata karena ALLOH (LILLAH) juga harus
disertai tujuan mengikuti / mentaati Rosululloh (LIRROSUL).
Penerapan seperti inilah yang dibimbingkan pula dalam Ajaran
Wahidiyah.
Jasa
seseorang tidak boleh diabaikan / dilupakan, melainkan harus
diakuinya dan disyukuri, baik dengan ucapan dan perbuatan maupun
dengan pengakuan / perasaan batin. Lebih-lebih jasa atas
diperolehnya suatu ni’mat dan anugerah yang amat besar nilainya.
Yakni karunia iman dan islam. Padahal dari sekian makhluq yang ada
di alam ini tiada satupun yang berjasa kepada kita manusia melebihi
jasa Rosululloh Shollalloohu 'alaihi wasallam yang “rahmatan
lil’alamiin”. Tiada satupun amal kebaikan yang terlepas dari
jasa Beliau Shollalloohu 'alaihi wasallam. Untuk itu setiap kita
melakukan amal kebaikan seharusnya tidak melupakan jasa Beliau ,
bahkan harus selalu merasa bahwa segala kebaikan yang kita lakukan
dan kita terima atas jasa Beliau Shollalloohu 'alaihi wasallam.
Istilah Wahidiyah selalu menerapkan BIRROSUL.
Tiada
seorang pun yang hidup di alam ini yang tidak memerlukan atau tidak
berhubungan pihak lain. Kelahirannya saja di alam fana ini sudah
memerlukan banyak pihak. Setiap ada hubungan dengan pihak lain di
situ pasti timbul dengan sendirinya suatu hak dan kewajiban yang
harus dipenuhi. Penyimpangan dan penyalahgunaan dalam pemenuhan hak
dan kewajiban adalah suatu kezhaliman. Kezhaliman yang dilakukan
oleh seseorang akan mengakibatkan gelapnya hati dan penghalangnya
pintu kesadaran, keimanan, ketaqwaan kepada Dzat Maha Suci serta
akan memperberat tuntutan di alam baqa’ nanti. Dalam Wahidiyah
diberi bimbingan secara garis besar tentang kewajiban pemenuhan hak
terhadap pihak lain yang diistilahkan dengan YUKTII KULLA DZII
HAQQIN HAQQOH (memberikan suatu hak kepada yang berhak menerimanya)
dengan prinsip TAQDIIMUL AHAM FAL-AHAM TSUMMAL-ANFA’FAL-ANFA’
(mendahulukan sesuatu yang lebih penting (aham) dan yang lebih besar
manfa’atnya (anfa’)).
Penjelasan
tentang apa yang diuraikan dalam muqaddimah ini Insya Alloh akan
dibahas lebih luas di bawan ini. Mudah-mudahan bermanfa’at dan
diriloinya fid-diini wad-dun-ya wal-akhirah. Amiin.
DEFINISI
(TA’RIF) AJARAN WAHIDIYAH;
Yang
dimaksud dengan AJARAN WAHIDIYAH adalah : BIMBINGAN PRAKTIS
LAHIRIYAH DAN BATINIYAH DI DALAM MENGAMALKAN DAN MENERAPKAN TUNTUNAN
ROSULULLOH, Shollalloohu 'alaihi wasallam MENCAKUP BIDANG
SYARI’AT, BIDANG HAQIQAT, MELIPUTI PENERAPAN IMAN, PELAKSANAAN
ISLAM, PERWUJUDAN IHSAN DAN PEMBENTUKAN AKHLAQUL KARIMAH.
Peningkatan
iman menuju kesadaran atau ma’rifat kepada ALLOH Subhanahu
Wata’ala
Pelaksanaan
Islam sebagai realisasi dari ketaqwaan terhadap ALLOH Subhanahu
Wata’ala, Tuhan Yang Maha Esa.
Perwujudan
Ihsan sebagai manifestasi dari iman, Islam yang kamil (sempurna).
Pembentukan moral / akhlaq untuk mewujudkan akhlaqul karimah.
Bimbingan
praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam memanfa’atkan potensi
lahiriyah yang ditunjang oleh pendayagunaan potensi
batiniyah/spiritual yang seimbang dan serasi.
Jadi
bimbingan praktis tersebut meliputi segala bentuk kegiatan hidup
dalam hubungan manusia dengan ALLOH Subhanahu Wata’ala (HABLUM
MINALLOH), hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat sebagai
insan sosial (HABLUN MINAN-NAAS), hubungan insan dengan keluarga,
rumah tangga, dengan bangsa, negara dan agama, dengan sesama ummat
manusia segala bangsa serta hubungan manusia dengan segala makhluq
di lingkungan hidup pada umumnya.
Sumber
dasar hukum Ajaran Wahidiyah adalah : AL-QUR’AN DAN SUNNAH
ROSULULLOH Shollalloohu 'alaihi wasallam
Pokok
- pokok atau rumusan Ajaran Wahidiyah sebagaimana termaktub dalam
Lembaran Sholawat Waghidiyah adalah :
“LILLAH
- BILLAH, LIRROSUL- BIRROSUL, YUKTII KULLA DZII HAQQIN HAQQOH,
dengan prinsip TAQDIIMUL AHAM FAL-AHAM TSUMMAL-ANFA’ FAL-ANFA’.
Ikuti
Pembahasannya satu persatu : |